Information: (1-647) 238-1897

Articles

Bagaimana dengan babi-babi itu?7/4/2007
by: Ev. Agus B. Sadewa
 
Lukas 8:26-39
Mengapa mereka harus dikorbankan demi kebaikan manusia? Apakah tak ada jalan lain? Kematian babi-babi merefleksikan sifat kejahatan: Mematikan atau menghancurkan. Dalam bahasa Inggris, kata e-v-i-l (kejahatan) merupakan kata l-i-v-e (kehidupan) yang dieja terbalik. Benar, kejahatan itu menjungkir balik kehidupan.
 
Untuk mengalahkan kejahatan Tuhan perlu mengadakan perombakan radikal. Oleh karena itu, perlunya korban sudah tak terhindarkan. Kita tak sepenuhnya menyadari betapa kejahatan itu telah berakar begitu dalam dan luasnya dalam kehidupan kita sehingga untuk mengatasinya Tuhan perlu menerapkan root canal treatment. Ibaratnya, gigi kehidupan kita sudah tak dapat lagi dipertahankan. Satu-satunya cara gigi kehidupan kita mesti ditarik seluruhnya sampai ke akar-akarnya. Untuk itu, operasi menyobek jaringan-jaringan yang berkaitan harus dimaklumi. Tanpa itu, jangan harapkan ada kesembuhan. Tuhan tidak akan bersulap. Lagipula Ia bukan pesulap. Ia tidak akan menyulap kebusukan dosa kita sehingga kembali seperti sedia kala. Marilah kita berpikir sebagai orang dewasa! Mengatasi kejahatan membutuhkan waktu, usaha, dan pengorbanan. Saya percaya dosa tidak mungkin tak meninggalkan bekas apapun dalam kehidupan kita. Kerusakan yang disebabkannya akan tinggal bersama dengan kita. Saya pernah membaca (harap ini tidak sekadar menakut-nakuti) bahwa kerusakan sel-sel otak yang disebabkan oleh obat-obat terlarang alias narkoba itu tak akan bisa digantikan atau diregenerasi. Recovery bagi para pecandu juga tak mengenal kata sudah (recovered), melainkan sebuah proses (recovering) yang harus dilalui seumur hidup. Tapi mungkin keadaan ini ada baiknya agar kita ingat untuk bersandar penuh pada Tuhan senantiasa, dan bukan pada kekuatan kita sendiri. Bekas-bekas kerusakan itu justru merupakan isyarat bahwa Tuhan sudah, sedang, dan masih terus membarui kehidupan kita.
Back to Article Listing