Yesaya 1.10-20; Lukas 20.1-8

Bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
– Yesaya 1.15

Tidak ada masalah identitas di Yerusalem. Orang-orang ini tahu siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Mereka adalah umat perjanjian Yahweh dan mereka tahu bahwa cara untuk menjaga kehidupan dalam perjanjian tetap aman adalah dengan menaati hukum Allah. Dan hukum Allah itu jelas mengenai tanggung jawab mereka untuk memelihara sabat dan mempersembahkan kurban-kurban bagi dosa, kesalahan dan ucapan syukur.

Kita juga tahu apa artinya menjadi umat Allah hari ini. Kita pergi ke Gereja, memberi persepuluhan dan mendukung pekerjaan berbagai organisasi Kristen. Begitulah artinya mengikut Kristus hari ini.

Tetapi sekarang nabi ini datang, berbicara bagi Allah, mempertanyakan kita: “Siapakah yang menuntut itu dari tanganmu?” Siapa yang meminta? Ada apa ini, tentu saja Allah, Dialah yang meminta! Mempersembahkan kurban-kurban itulah artinya ketaatan, dan justru oleh karena kita taat dalam hal-hal itulah keamanan kita tegak berdiri dan kemakmuran kita tumbuh subur. Lalu, atas otoritas apa Yesaya mempertanyakan praktik-praktik ilahi tersebut?

Sabda Yesaya dari Tuhan tidak meninggalkan keraguan sedikit pun. “Aku sudah jemu dengan bisnis kurban bakaran ini! Aku tak sanggup lagi mendengar nyanyian-nyanyian pujian dan menerima layanan-layanan ibadahmu! Aku benci semua itu! Semua itu menjadi beban bagi-Ku! Semuanya itu melelahkan-Ku! Sebenarnya, kau bisa menghentikan doa-doamu – Aku tak mendengarkannya lagi!” Mengapa? Mengapa Kau jadi berubah pikiran tentang apa yang Kau inginkan dari kami? “Sebab tanganmu penuh dengan darah.”

Ya, Bait Allah merupakan keajaiban arsitektural. Ya, kita sedang mendirikan Gereja-gereja ber-AC dengan lahan parkir yang luas penuh dengan teknologi otomobil mutakhir. Ya, komunitas Kristen memiliki jam udara di televisi dan radio. Ya, kita bisa menghimpun beribu-ribu orang untuk mengiring Yesus. Tapi justru ke dalam realitas “Kristen” inilah Yesaya menyelipkan kata-kata yang mengganggu itu: “Tanganmu penuh dengan darah.” Mungkinkah dalam ungkapan pendek tajam tersebut Sang Nabi menyibak realitas dunia kita, yang mati-matian mau kita tangani seluruhnya dengan segala aktivitas religius kita?

Baiklah, Allah, jika antusiasme yang diperbarui dalam kehidupan ibadah dan pertumbuhan Gereja kami tak sesuai lagi dengan tuntutan-Mu, lalu apa yang sesungguhnya Kau inginkan?

Berhentilah berbuat jahat,
Belajarlah berbuat baik.

Tapi apa maksudnya?

Usahakanlah keadilan,
kendalikanlah orang kejam / selamatkanlah kaum tertindas,
belalah hak-hak anak yatim,
perjuangkanlah perkara janda-janda.

Dalam aktivitas-aktivitas inilah umat perjanjian memperbarui dan mempertahankan identitasnya. Lagipula, kesehatan sejati sebuah komunitas yang hidup dalam perjanjian dengan Allah justru diukur dengan melihat apakah komunitas tersebut peduli pada mereka yang paling lemah dan tak berdaya. Mengusahakan keadilan tak cuma sebuah hiburan menarik bagi orang yang gemar berpikir secara politis di antara kita. Inilah tanda yang pokok dan tak tergantikan dari daya hidup dan kesetiaan perjanjian.

Pesta-pesta sabat, pertemuan-pertemuan khidmat, layanan-layanan gereja dan nyanyian-nyanyian pujian tak dapat membersihkan tangan kita. Hanya dengan membiarkan tangan kita kotor dan berdarah dalam mengusahakan keadilan bagi kaum tertindas bisa melakukannya.