Kemarin pagi saya berkesempatan untuk memimpin perjamuan kudus. Maklumlah ini pertama kali bagi saya semenjak ditahbiskan, jadi masih rada kaku. Tapi saya bersyukur semua dapat berjalan dengan lancar dan cukup khusyuk.

Saya teringat kira-kira satu minggu sebelumnya saya dan para pengurus sudah mulai mendiskusikan apa saja yang perlu dipersiapkan. Lalu kami tiba pada sebuah pertanyaan teknis tapi lumayan serius: pakai meja apa? Berhubung ruang di kebaktian pagi tidak begitu besar, kita enggak bisa sembarang mengambil meja. Kalau kepanjangan, bikin sesak. Kalau kekecilan, enggak muat.

Akhirnya, pagi-pagi sebuah meja berukuran medium sudah nongkrong di sisi mimbar. “Oh, ini pas,” batin saya. Meja itu lalu dibungkus dengan taplak berwarna putih polos. Petugas kebaktian perlahan mengusung masuk piring roti dan cawan air anggur, diletakkannya mereka di atas meja dengan penataan yang anggun.

Saya termenung. Bagaimana seharusnya kita memandang meja perjamuan Tuhan? Apakah ini sebuah meja perjamuan atau sebuah mezbah? Apa perbedaannya?

Meja perjamuan lebih terjangkau, mudah dipahami buat kita. Di meja perjamuan ada makanan dan minuman serta percakapan yang santun. Kita dapati sendok, garpu, atau pisau saling beradu sehingga menimbulkan dentingan yang hanya menambah semarak suasana perjamuan. Tuhan dapat dibayangkan tengah duduk di antara kita, begitu dekat, intim penuh penerimaan. Tak pelak lagi, kita lebih suka ide atau gambaran ini.

Tapi mezbah? Mezbah adalah tempat pengurbanan. Kita tak begitu familiar dengannya. Di sanalah seorang imam menyayat leher seekor domba atau sapi yang innocent. Ada suara jeritan kesakitan. Ada darah segar yang muncrat membasahi mezbah. Tema pembicaraan di seputar mezbah adalah dosa dan kematian. Tuhan mahasuci tak dapat berkompromi dengan dosa; Ia murka sekaligus berduka.

Pada Perjamuan Kudus, apakah kita menghampiri meja perjamuan atau mezbah? Jawabnya ialah kedua-duanya.

Meja perjamuan takkan tergelar tanpa mezbah. Kita tak boleh menerima yang satu tetapi menampik yang lain. Dosa dan kematian itu riil. Mereka tak boleh dibiarkan tak tersentuh. Mereka mesti dihadapi. Ya, di mezbah. Di salib. Karena justru dengan kematian Tuhan yang menggantikan, kita dapat menikmati persekutuan di meja perjamuan, bahkan the heavenly banquet di hari mendatang.

Pendeta William Willimon dalam Sunday Dinner kurang lebih menulis begini, “Kekristenan memberi penghiburan yang besar. Kendati begitu, ia tak dimulai dengan penghiburan; sebaliknya, ia diawali dengan kerelaan menanggung nyeri. Kita tak bisa meminta penghiburan sebelum kita berhadap-hadapan dengan salib. Salib mengingatkan kita bahwa Tuhan menang bukan melalui paksaan atau tangan besi, melainkan melalui pengurbanan diri.” Begitu juga semestinya dengan kita.